Peran Perempuan dalam Pergerakan

Kopri PMII INZAH Genggong saat Lomba KTI di UNUJA

Pembuktian sejarah gerakan mahasiswa Indonesia, sesuai dengan konteks jamannya, haruslah memberikan kesimpulan apakah gerakan tersebut, dalam orientasi dan tindakan politiknya, benar-benar mengarah dan bersandar pada problem-problem dan kebutuhan struktural rakyat Indonesia. Orientasi dan tindakan politik cermin daripada bagaimana mahasiswa Indonesia memahami masyarakatnya, menentukan pemihakan pada rakyatnya serta kecakapan merealisasi nilai-nilai tujuan ideologinya.

Karena pranata mahasiswa merupakan gejala pada masyarakat yang telah memiliki kesadaran berorganisasi, dan mahasiswa merupakan golongan yang di berikan kesempatan sosial untuk menikmati kesadaran tersebut, maka asumsi bahwa gerakan mahasiswa memberikan penghargaan yang tinggi terhadap kegunaan organisasi dalam gerakannya adalah absah.

Saat bangsa ini terus merintis kemajuannya demi meningkatkan martabat di mata bangsa lain, kepingan sejarah yang diciptakan oleh orang-orang berani dan bermisi kuat pun terus bertambah. Jika kita mau menelurusi kepingan-kepingan sejarah tersebut, maka jangan terkejut jika kita banyak menemukan peran wanita di dalamnya.

Dalam perjalanan sejarah bangsa kita, gerakan perempuan akan tumbuh berkembang dari masa ke masa, kiprah perempuan Indonesia yang mengambil bagian dalam memajukan berbagai bidang kehidupan tidak bisa dilupakan begitu saja. Perempuan adalah bagian yang berhubungan sangat erat dengan masalah kesejahteraan masyarakat. Pada saat krisis perekonomian, perempuanlah yang paling merasakan akibat dari krisis tersebut. Namun dalam keadaan yang kritis, tak jarang pula perempuan lebih mempunyai inisiatif, bangkit dan menggerakkan masyarakat sekitarnya untuk memperbaiki kondisi perekonomian, mulai dari perekonomian keluarga hingga meluas ke perekonomian masyarakat.

Seorang perempuan yang selalu dipandang lemah dan sebelah mata, lebih mendahulukan menggunakan perasaan daripada logika itu adalah kodrat wanita, lain dengan seorang laki-laki yang selalu di pandang kuat dan bisa memimpin di segala bidang, karna laki-laki lebih mendahulukan logikanya. Perempuan sebenarnya bisa, bahkan bisa malakukan pekerjaan di luar kewajibannya sekalipun, seperti halnya juga ikut berperan dalam masyarakat umum, hanya saja kebanyakan wanita tidak bisa mengalahkan egonya sendiri ( Minder ) sehingga munculah perasaaan takut untuk menampakkan dirinya di khalayak umum. Contohya kita lihat dari kalangan Mahasiswa sendiri, di saat ada kegiatan diskusi bareng antara laki-laki dan perempuan pasti yang banyak mengutarakan sebuah argumen adalah dari kalangan laki-laki, kenapa, karna laki-laki mempunyai jiwa mental yang cukup kuat daripada seorang perempuan. Bukan ia tidak tau atau tidak  mempunyai sebuah argumen, dan bukan juga dia tidak membaca , hanya saja ia minder, merasa malu dan takut untuk mengutarakan sebuah argumennya sehingga ia memilih diam dan menjadi pendengar setia. Namun kita harus memaksakan diri untuk mencoba. Di antaranya mungkin kita bisa melakukan dari hal yang terkecil, contohnya:
  • Membangun sebuah mimpi
  • Mempunyai keinginan untuk mewujudkan mimpi tersebut
  • Mempunyai Keberanian
Jika seseorang tidak pernah mencobanya maka dia akan diam di tempat (stagnan) dan akan rugi, jika terus menerus di hantui rasa takut sehingga sampai ia lupa kalau dirinya adalah seorang Mahasiswa, yang perannya adalah “Agen Of  Change dan Agen Of Control / sosial”.

Agen of change merupakan orang yang dapat menyebabkan perubahan dalam cara melakukan sesuatu, lantas dalam melakukan perubahan tersebut haruslah di buat metode yang tidak tergesa-gesa, dimulai dari ruang lingkup terkecil yaitu diri sendiri, dan terus berkembang hingga akhirnya sampai ke ruang ruang lingkup yamg kita harapkan, yaitu bangsa ini.

Agen of control / sosial merupakan mahasiswa yang dituntut sebagai pelaku dalam masyarakat, karana tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat, idealnya seorang mahasiswa menjadi panutan dalam masyarakat berlandaskan dengan pengetahuanya.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia menceritakan tentang tokoh-tokoh  perempuan yang berjuang pada saat itu salah satunya bernama R.A. Kartini (1879-1904) yang dikatakan perintis kemerdekaan yang melalui pemikirannya melawan kolonialisme, dan berjuang dalam memajukan pendidikan bagi kaum perempuan. Beliau menggugah kesadaran masyarakat pada zamannya dengan mengganti pola pikir keliru yang menyebutkan bahwa perempuan tidak perlu mengecap pendidikan, dengan pola pikir kemajuan yang menuntut kaum perempuan untuk juga merasakan pendidikan di sekolah. Tidak hanya di Sekolah Rendah, melainkan harus dapat melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, seperti halnya kaum laki-laki.

Sebagai tokoh yang berjuang memajukan kaum perempuan dan mempunyai cita-cita membebaskan perempuan dari keterbelakangan dan kemiskinan denga cara pendidikan maka akan membawa perempuan kepada kebebasan.

Tentu saja, tidak hanya Kartini yang berjuang dalam meningkatkan taraf hidup kaum perempuan. Ada banyak perempuan yang tersebar di Nusantara yang juga menjadi pejuang kaum perempuan untuk menjadi lebih baik dan maju. Sejarah mencatat beberapa nama seperti Rohana Kudus yang menaikkan nama perempuan di kalangan jurnalis Indonesia, Untuk mewujudkan cita-cita peningkatan kualitas pendidikan di kalangan perempuan, maka kekuatan masapun dirasa perlu. Oleh karena itu pejuang perempuan pada masa itu membentuk suatu organisasi perempuan yang akan mewadahi cita-cita mereka.

Pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta,di adakannya kongres Perempuan Indonesia  dimana hampir 30 organisasi perempuan yang hadir pada saat itu. Kongres akbar yang menjadi pondasi pertama gerakan perempuan tersebut menghasilkan federasi organisasi yang di antaranya bernama Persatoean Perempoean Indonesia (PPI) yang pada tahun berikutnya berubah nama menjadi PPII (Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia). Organisasi perempuan yang ada di Indonesia mempunyai peran signitif yang bukan hanya untuk memperjuangkan hak dan kepentingan perempuan akan tetapi untuk mengangkat dan mengurusi peran dan kedudukan perempuan yang bersifat gender, untuk merubah penindasan kaum perempuan baik secara ekonomi, sosial budaya maupun politik, maka dari itu untuk kaum perempuan harus sadarlah sebagai seorang perempuan untuk berjuang demi tegaknya kesetaraan gender, dengan cara kesadarannya kaum perempuan tentang kondisi yang menimpa mereka saaat ini, mungkin sebagian dari mereka belum menyadari tentang apa yang terjadi pada dirinya orang lain, padahal kaum perempuan adalah mitra kaum pria yang di ciptakan dengan kemampuan mental yang setara, kaum perempuan memiliki hak penuh untuk berpartisipasi dalam aktivitas kaum laki-laki dalam hal sekecil-kecilnya, kaum perempuan juga memiliki hak dan kebebasan atas kemerdekaan yang sama atas aktivitas yang di lakukan kaum laki-laki.

Dari untaian sejarah yang mengagumkan, dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya Nusantara yang luas seakan sempit ketika perjuangan tak mengenal batas. Di masa jajahan penuh kekangan ditambah dengan teknologi komunikasi yang jauh lebih sederhana dari sekarang ini, pejuang perempuan pada masa itu bisa dengan sukses mengumpulkan puluhan organisasi perempuan yang tersebar di Nusantara dalam satu kongres besar. Ternyata benar adanya, pejuang dan pemimpin yang lahir dari zona ‘tidak aman’ akan tumbuh kuat dan tangguh.

Tentu saja ruang ini tidak cukup tersedia untuk membahas gerakan mahasiswa pada masa ini, yang cukup menggairahkan untuk di analisa namun harus memperhitungkan spektrum perdebatan .

Pergerakan merupakan dinamika seseorang makhluk yang senantiasa maju bergerak menuju tujuan yang ideal. Pergerakan perempuan yang berjalan dari masa ke masa tentu tidak berhenti sampai di sini saja. Seiring kemajuan bangsa, tantangan pergerakan juga akan terus hadir. Bahkan untuk kualitas pendidikan, sampai saat ini kita masih harus berjuang untuk menyetarakannya dengan negara-negara lain yang lebih berkembang. Untuk kasus kaum perempuan sendiri, permasalahan melemahnya posisi perempuan adalah karena mereka di singkirkan dari akses ekonomi dan hanya di fungsikan sebagai medium untuk melanjutkan keturunan yang berarti penerus, dalam hal ini kaum perempuan bisa mengejar haknya hanya melalui pendidikan dan pelajaran yang baik, maka kedudukan dan kebahagiaan kaum wanita dapat di perbaiki dan setara dengan kaum pria, dalam kehidupan masyarakat, apalagi di kalangan Ibu-Ibu masa kini bahkan masih perlu diberikan pencerdasan yang benar sesuai dengan aqidah Islam. Contoh saat ini banyak sekali kaum Ibu yang bangga melihat anaknya mengumbar aurat di muka umum, asal terkenal dan berpenghasilan tinggi dianggap sudah sangat membanggakan. Hal-hal seperti inilah yang harus diluruskan. Emansipasi boleh, tapi jangan disamakan dengan gaya barat, karena emansipasi kita jelas berbeda dengan emansipasi gaya barat, emansipasi kita harus melihat kembali kepada Fiqh Islam dan berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah.

Tantangan dalam sebuah karya. Merupakan perjuangan dalam menginvestasi pengetahuan untuk generasi mendatang. Sama seperti pejuang terdahulu, kita tentu menginginkan perjuangan kita saat ini bisa dilanjutkan oleh anak cucu kita nanti. Banyak sekali pejuang perempuan pada masa lampau yang ikut berjuang mulai dari memajukan martabat perempuan hingga berjuang merebut kemerdekaan, namun mengapa seolah-olah hanya ada Kartini saja, mengapa nama beliau begitu besar dan harum di kalangan aktivis perempuan dari masa ke masa, karena Kartini meningalkan karya sehingga bisa dinikmati sampai kapanpun oleh generasi penerus, sehingga kita dapat mencontoh semangat juang ibu kartini kita.

Penulis: Siti Lailatin (Kader Kopri PMII INZAH Genggong)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesan-pesan Tersirat Pagelaran Harlah PMII di Probolinggo

Peringati Hari Ketujuh Wafatnya Almarhumah Nyai Hj Azizah Aziziyah Saifourridzal, PMII Gandeng TANASZAHA dan ORMAWA Gelar Do'a Bersama

Satukan Persepsi Warna-Warni Kader 2021, Ketiga Rayon Adakan Seminar Keorganisasian