Geliat Kaderisasi (Mahasiswi) Millenial
| Peserta MAPABA RAYA 2017 PMII INZAH GENGGONG |
Kraksaan, 09 Desember 2017, Melihat
acara 2 hari yang lalu, penulis terpantik untuk melambai ayunkan jari ini
kembali untuk kembali mencurahkan isi pikiran dan gagasan penulis kembali atas
gejala empiris yang penulis lalui diacara sakral MAPABA PMII INZAH yang lalu.
Mahasiswa dengan persepsi
kuncinya adalah sebagai agen perubahan (agent of change), pengontrol
sosial (agent control of sosial), penegak moral (moral force), penjaga
nilai (guardian value), memiliki peran yang sebenarnya tak mudah untuk
menjadi manusia dengan karakter seperti yang sudah disebutkan tadi dengan
menempuh proses yang biasa-biasa saja, kehausan intelektualitas yang tinggi,
semangat mengambangkan softskill dan hardskill, kelaparan
pengetahuan teoritik dan empirik, sebenarnya cukup menjadi modal bagi sebagian
kalangan mahasiswa yang merasa dirinya masih berada pada titik terendah,
kecuali mahasiswa yang hanya akan menjadi babu bagi sistem pendidikannya
sendiri.
Ditandai dengan
diadakannya Organisasi Kepemudaan /Orgama-Orgama (Organisasi Mahasiswa) variable
dilingkungannya, yaitu perguruan tinggi, mahasiswa tanpa diarahkan seharusnyalah
menyadari keberadaannya tersebut dengan menunjukan rasa simpatik dan apresiatif
yang tinggi terhadap orgama-orgama yang beragam, meskipun hanya dengan
berkumpul ria dan duduk bersimpuh dengan kaki bersila lalu menggelar ‘tikar’ (hari
ini mungkin banner) diskusi, menjalin hubungan yang baik (ukhuwah
bashariyah), saling bertukar pikiran dan gagasan mikro s/d makro.
Di probolinggo ini
ada banyak Orgama-Orgama yang basisnya ditataran Mahasiswa adalah PMII, HMI,
GMNI, IMM, dan IPNU. PMII adalah salah satu diantara banyaknya OKP yang
tergabung dalam gerakan mahasiswa, ia berafiliasi pada Organisasi induknya
“Nahdlatul Oelama`” dan berideologikan islam `ala ahl as-sunnah wa
al-jama`ah (Aswaja) dari ke-Sunni-an yang kental dengan paham yang moderat,
moderatis dan moderatif. PMII atau Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia manjadi garda paling depan mengisi shaf-shaf kosong dalam
mempertahankan nilai-nilai kebangsaan, keislaman dan kepemudaan diantara banyak
organ-organ lain yang lebih banyak menjunjung visi misi politis seperti GMNI
yang berafiliasi pada party politic Demokrasi Indonesia-Perjuangan, HMI
kepada Masjumi, dsb. Pada dasarnya PMII jua lahir dari rahim partai politik,
namun pada akhirnya Organisasi Mahassiswa ini memutuskan independen dari
partainya yaitu NO (Nahdlatul Oelama’) pada tahun 1987, menjadi
organisasi kaderisasi kepemudaan yang mayoritas menjaring kalangan mahasiswa di
perguruan-perguruan tinggi islam swasta dan negeri.
PMII
yang kini berwajah organisasi kaderisasi, banyak diminati oleh mahasiswa
nahdliyin mayoritas, dan mahasiswa non nahdliyin, bahkan non muslim pada
kesempatan tempat lain. ini ditandai dengan dibuktikan banyaknya pendaftar
Mapaba INZAH pada tahun ini. Banyaknya pula PMII menjaring mahasiswa-mahasiswi
dalam banyak acara kepelatihannya menjaring untuk dikader menjadi mahasiswa
yang berideologikan Islam Aswaja, PMII menjadi organisasi paling subur
pengkaderannya dari kesekian organisasi yang ada, pula sebagai organisasi
terbesar di Indonesia, PMII menjadi rumah paling ideal bagi mahasiswa yang
masih merasa dia adalah terlahir dari lingkungan NU. Fakta dilapangan juga
banyak membuktikan dari beberapa komisariat di probbolinggo dalam acara
pelatihan berjenjang PMII banyak dipenuhi oleh mahasiswi-mahasiswi yang cantik
jelita, salah satunya adalah Rayon Tarbiyah, Syari`ah, dan Ekonomi dari
komisariat PMII INZAH yang mengadakan acara MAPABA beberapa hari yang lalu,
sejak di laksanakannya tehnical meeting H-1 yang dihadiri mayoritas mahasiswi
sahabat-sahabat panitia seperti tak percaya bahwa kaderisasi PMII ditingkatan
Rayon hari ini banyak menuai kesuksesan dan keberhasilan, sebab geliat
mahasiswa-mahasiswi di internal kampusnya sedikit demi perlahan jua sadar akan
pentingnya ber-himpun, ber-gerak, ber-satu, dengan melalui organisasi.
Penyadaran sebenanya perlu untuk dilakukan dan dilaksankan dengan menebar
symbol-symbol dan identitas selaku kader PMII sebab PMII tak butuh mahasiswa,
karena sebaliknya, mahasiswalah yang seharusnya butuh untuk ber-PMII. Geliat
ini sangat disayangkan jika dalam perjalanannya tak diapresiasi dengan baik
oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab atas berkembangnya penghuni
dan organisasinya itu sendiri, karena PMII harus tetap menjaga konsistensinya
dalam bergerak ke arah berlawanan, bukan tunduk patuh pada kesewenangan. Jika
pembiaran itu terus berlangsung, maka ibarat kita menanam BOM waktu di halaman
rumah kita sendiri, karena manusia yang dikembangkan di organisasi pastilah
memiliki kesadarnan dan kepedulian tinggi dalam meruwat dan merawat
organisasinya dengan baik dan benar.
Penjaringan
anggota PMII untuk tahun ini, yang penulis amati banyak didominasi oleh anggota
Wanita-wanita Millenal yang sangat menunjukkan dengan baik semangat serta
kemauan mereka untuk ditempa dan diolah melalui pengkaderan selaku generasi Z
pada eranya, dalam hal ini MAPABA. Ini penulis sebut dengan emansipatorisasi wanita
millenial dalam ruh berorganisasi, sebab tak jarang, organisasi-organisasi
kemahasiswaan seperti PMII umumnya selalu didominasi oleh anggota-anggota
laki-laki/putera, ini tak lain juga menunjukkan geliat kaderisasi yang sangat
jauh dari ekspektasi dan tujuan yang lumrah, maka tak lain ini seperti istilah
penulis pribadi “menembak burung buahpun berguguran”, artinya adalah, ketika
PMII menjaring angota-anggota dengan semangat laki-laki untuk di-PMII-kan maka
anggota wanita pun tak luput dengan slogan semangat yang lebih, menunjukkan
keinginannya atas dasar kemauan untuk tak kalah pada anggota laki-laki yang
telah terjaring pula.
Penulis
kira ini harus terapresiasi dengan baik dengan cara meng-cover anggota wanita
yang telah ber-PMII agar lebih terjaga intensitas keberorganisasiannya, juga
jangan lupakan, asah dan latih anggota-anggota PMII baru untuk lebih menajamkan
kreatifitas dan bakatnya dalam berorganisasi agar nampak menjadi pembeda atas
mahasiswa yang tak berorganisasi atau tak ber-PMII, tanggung jawab lain selain
yang telah tersebutkan akan setia menanti berupa sederet tantangan-tantangan
mewah yang akan mungkin menjadi rintang dan aral dalam kemajuan dan kebesaran
organisasi tercinta ini. Oleh karenanya berorganisasi tak sekedar berkumpul
memadukan persepsi, menyatukan kehendak visi dan misi, juga tak sekadar duduk
ngopi sambil aktifkan wifi, selain itu ajarilah anggota-anggota baru kita itu
untuk terus membangun budaya MEMBACA, MENGANALISA, lalu barulah MENCITRA, karena
citra baik organisasi akan diukur, seberapa banyak buku yang telah anda baca
dan diskusikan, bukan seberapa tebal Kitab Suci yang telah anda Khatamkan
tulisannya.
Untuk
adek-adekku, penulis hanya ingin menyampaikan salam dari Brodsky. Beliau pernah
berkata. “Ada kejahatan yang lebih mengerikan daripada membakar buku, yaitu
tak membaca”.
Komentar
Posting Komentar